KETAHANAN KELUARGA SEBAGAI FONDASI BANGSA DI TENGAH PUSARAN ZAMAN

Rizal Darwis
(Dosen Fakultas Syariah dan Pascasarjana IAIN Sultan Amai Gorontalo)

Setiap tahun, tanggal 29 Juni menjadi momen refleksi bagi bangsa Indonesia melalui peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas). Pada tahun 2024 ini, semangat yang diusung bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah penguatan fundamental: ketahanan keluarga. Di tengah derasnya arus globalisasi dan disrupsi digital, keluarga bukan lagi sekadar unit terkecil dalam masyarakat, melainkan benteng terakhir yang menentukan kualitas sumber daya manusia dan ketahanan nasional.
Konsep ketahanan keluarga sering kali direduksi menjadi ketahanan ekonomi semata. Padahal, dalam konteks kekinian, ketahanan ini memiliki dimensi yang jauh lebih kompleks. Pertama adalah ketahanan psikologis. Era teknologi telah mengaburkan batas antara ruang privat dan ruang publik. Keluarga menghadapi tantangan baru, seperti kecanduan gawai pada anak hingga kecemasan digital pada orang tua. Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang mampu menciptakan ruang aman bagi anggotanya untuk bertumbuh, di mana komunikasi aktif dan keterbukaan emosional menjadi prioritas utama, bukan sekadar ketersediaan fasilitas fisik.
Kedua adalah ketahanan ideologi. Di tengah banjir informasi, keluarga adalah filter pertama bagi nilai-nilai luhur. Momentum Harganas seharusnya menjadi pengingat untuk kembali ke peran keluarga sebagai agen sosialisasi nilai-nilai moral dan agama. Ketahanan ideologi ini penting untuk membentengi generasi muda dari radikalisme dan budaya konsumtif yang merusak kepribadian bangsa.
Ketiga, yang tidak kalah penting adalah ketahanan ekonomi kreatif. Pada tahun 2024, ketahanan ekonomi keluarga tidak lagi bergantung pada pekerjaan formal semata. Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang memiliki literasi keuangan yang baik dan kemampuan beradaptasi dengan ekonomi berbasis keterampilan (skill-based). Peringatan Harganas 2024 bisa menjadi panggung untuk mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis keluarga, seperti usaha mikro yang dikelola bersama, sehingga kemandirian ekonomi tercipta dari unit terkecil ini.
Namun, berbagai program ketahanan keluarga yang digalakkan pemerintah sering kali mengalami hambatan pada tataran implementasi. Ada kesenjangan antara kebijakan makro dan realitas mikro di lapangan. Oleh karena itu, peringatan Harganas 2024 harus menjadi titik tolak untuk menghidupkan kembali peran aktif para pemangku kepentingan, mulai dari kader PKK hingga tokoh masyarakat, dalam menjembatani kebijakan ketahanan keluarga. Program harus menyentuh aspek pencegahan stunting, peningkatan akses pendidikan karakter, hingga konseling keluarga, yang semuanya perlu diintegrasikan secara lebih holistik.
Momentum Harganas adalah panggilan untuk tidak hanya merayakan, tetapi juga untuk mengintrospeksi diri. Jika keluarga-keluarga di Indonesia mampu berdiri kokoh sebagai benteng multidimensi, maka bukan tidak mungkin ketahanan nasional akan terwujud dengan sendirinya. Keluarga yang tangguh adalah fondasi bagi Indonesia yang tangguh. Selamat Hari Keluarga Nasional ke-31, 29 Juni 2024!